24 jam
24 Jam Siang dirundung gerimis. Sisa-sisa rasa sakit yang kemarin muncul seperti kuis yang tiba-tiba diberikan masih juga terasa. Aku memilih melangkahkan kaki menuju kedai kopi. Sebenarnya aku bisa memilih sushi, bar, atau burjo pinggir jalan. Tapi semua tempat itu tidak senyaman kedai kopi nomor 27. Pada kedai itu aku bisa melihat rentetan buku berderet rapi. Se-rapi alur yang kau berikan untuk pisah denganku. Diam--berbuat ulah di belakang--membela diri--aku maafkan--berbuat ulah lagi--lalu diam. Aku sedang malas-malasnya membahas tentang perlawanan, ekonomi carut-marut, kantong kosong tak dapat uang sampingan. Hatiku saja sedang gundah gulana, bagaimana bisa aku menjadi munafik dan tetap seperti biasa. Apa tidak cukup aku setiap hari berpura-pura tidak tahu bahwa kau sering jalan berdua dengannya? Apa tidak cukup aku selalu menutupi bahwa kita "baik-baik saja" Aku tumbuh di negara yang katanya tidak boleh menangis. harus kuat dan harus selalu siap memaafkan. ...