24 jam
24 Jam
Siang dirundung gerimis. Sisa-sisa rasa sakit yang kemarin muncul seperti kuis yang tiba-tiba diberikan masih juga terasa.
Aku memilih melangkahkan kaki menuju kedai kopi. Sebenarnya aku bisa memilih sushi, bar, atau burjo pinggir jalan. Tapi semua tempat itu tidak senyaman kedai kopi nomor 27.
Pada kedai itu aku bisa melihat rentetan buku berderet rapi. Se-rapi alur yang kau berikan untuk pisah denganku. Diam--berbuat ulah di belakang--membela diri--aku maafkan--berbuat ulah lagi--lalu diam.
Aku sedang malas-malasnya membahas tentang perlawanan, ekonomi carut-marut, kantong kosong tak dapat uang sampingan. Hatiku saja sedang gundah gulana, bagaimana bisa aku menjadi munafik dan tetap seperti biasa.
Apa tidak cukup aku setiap hari berpura-pura tidak tahu bahwa kau sering jalan berdua dengannya?
Apa tidak cukup aku selalu menutupi bahwa kita "baik-baik saja"
Aku tumbuh di negara yang katanya tidak boleh menangis. harus kuat dan harus selalu siap memaafkan.
Pura-puralah kuat, jangan tersedu-sedu ketika dirundung duka.
Pura-puralah kuat, jangan meringis ketika teriris pisau.
Pura-puralah kuat, saat tahu ayah dan ibumu harus berpisah dan kau yang mengurus adik-adik.
Jangan tumbang, hidup memang penuh kepura-puraan.
Malam, kau boleh lampiaskan pada bergelas-gelas anggur.
Kau boleh lampiaskan pada sebuah jalan raya dengan kecepatan tinggi, sambil mulut komat-kamit agar tidak tabrakan.
Kau boleh lampiaskan dengan melinting ganja dan terbang di atas sebuah balkon sepi ditemani musik sendu.
Tapi ingat, hanya malam.
Karena malam tidak ada yang melihatmu selain kau dan bayangan.
Tak akan ada yang protes saat air mata membasahi pipimu.
Tak ada yang menginterupsi saat kau meracau tentang kekasihmu yang pergi mendua saat kondisimu tengah krisis.
Aku jadi lupa tentang kedai kopinya.
Ah, aku sedang tidak mau mengangkat kopi dan senja.
Kopi ya kopi.
Rindu ya rindu.
Senja ya senja.
Biarlah begitu tanpa aku harus buat tulisan tentang itu semua.
.remukredam.
Siang dirundung gerimis. Sisa-sisa rasa sakit yang kemarin muncul seperti kuis yang tiba-tiba diberikan masih juga terasa.
Aku memilih melangkahkan kaki menuju kedai kopi. Sebenarnya aku bisa memilih sushi, bar, atau burjo pinggir jalan. Tapi semua tempat itu tidak senyaman kedai kopi nomor 27.
Pada kedai itu aku bisa melihat rentetan buku berderet rapi. Se-rapi alur yang kau berikan untuk pisah denganku. Diam--berbuat ulah di belakang--membela diri--aku maafkan--berbuat ulah lagi--lalu diam.
Aku sedang malas-malasnya membahas tentang perlawanan, ekonomi carut-marut, kantong kosong tak dapat uang sampingan. Hatiku saja sedang gundah gulana, bagaimana bisa aku menjadi munafik dan tetap seperti biasa.
Apa tidak cukup aku setiap hari berpura-pura tidak tahu bahwa kau sering jalan berdua dengannya?
Apa tidak cukup aku selalu menutupi bahwa kita "baik-baik saja"
Aku tumbuh di negara yang katanya tidak boleh menangis. harus kuat dan harus selalu siap memaafkan.
Pura-puralah kuat, jangan tersedu-sedu ketika dirundung duka.
Pura-puralah kuat, jangan meringis ketika teriris pisau.
Pura-puralah kuat, saat tahu ayah dan ibumu harus berpisah dan kau yang mengurus adik-adik.
Jangan tumbang, hidup memang penuh kepura-puraan.
Malam, kau boleh lampiaskan pada bergelas-gelas anggur.
Kau boleh lampiaskan pada sebuah jalan raya dengan kecepatan tinggi, sambil mulut komat-kamit agar tidak tabrakan.
Kau boleh lampiaskan dengan melinting ganja dan terbang di atas sebuah balkon sepi ditemani musik sendu.
Tapi ingat, hanya malam.
Karena malam tidak ada yang melihatmu selain kau dan bayangan.
Tak akan ada yang protes saat air mata membasahi pipimu.
Tak ada yang menginterupsi saat kau meracau tentang kekasihmu yang pergi mendua saat kondisimu tengah krisis.
Aku jadi lupa tentang kedai kopinya.
Ah, aku sedang tidak mau mengangkat kopi dan senja.
Kopi ya kopi.
Rindu ya rindu.
Senja ya senja.
Biarlah begitu tanpa aku harus buat tulisan tentang itu semua.
.remukredam.
Komentar
Posting Komentar