Postingan

Zona nyaman yang membuat kita MATI!

  Persoalan perubahan yang dihadapi manusia bukanlah mengadopsi hal-hal baru, melainkan sulitnya membuang kebiasaan-kebiasaan lama. Salah satu alasan yang menghalangi seseorang untuk berubah adalah, saat dia merasa ketakutan untuk kehilangan. Karena memang untuk berubah kita butuh melangkah atau move-on, meninggalkan sesuatu yang lama untuk menemui sesuatu yang baru. Sering penulis sampaikan kepada teman-teman yang ingin berubah, bahwa mereka harus segera melangkah buatlah hal-hal yang baru dalam hidup kita, tinggalkan zona nyaaman tersebut dan jadilah kita yang baru, dengan segala tangtangan dan pengalaman yang baru. Sebanyak 90% orang menjawab “lalu bagaimana dengan teman-temanku”   jika mereka juga ingin berubah pasti mereka mengikuti kita, namun jika tidak mereka akan diam di tempat dan menjauh dari kita.  Akan muncul kesan bahwa kita meningglkan mereka, namun kenyataan yang ada adalah; perubahan kita yang memberikan sebuah jarak dengan kita yang dulu dan kita yang ba...

Tulisan ini kutunjukan untukmu. Adikku!

 Aku mudah sekali dikuasai amarah. Menjawab, mendebat, menghina, mempertahankan pilihan yang nyatanya hanya untuk memuaskan egoku belaka. Aku tak pernah peduli akibat yang aku timbulkan pada orang lain. Yang penting aku menang, pandanganku kupaksakan, segala cara aku halalkan. Ketika kamu membaca ini, aku ingin titipkan satu mimpiku padamu. Jika terlalu berat, maka mundurlah dan aku tak akan marah. Kau boleh berteriak marah padaku dan menyebutku pendosa, sebab dari jemariku dan perkataanku, seseorang pernah terluka dan mengubur segala mimpinya.  jangan ulangi kesalahanku, tulisan ini adalah pengingat untukmu. Agar selalu berpikir dua hingga ratusan kali sebelum berbuat sesuatu. Pintaku satu, jadilah pribadi baik hati. Beranilah mencintai dan mengampuni saat mereka membeci. Sulit, itu hal sulit! Saat kamu harus menahan diri, saat dicaci, bahkan mungkin diolok lebih kejam lagi. Generasi kita adalah generasi yang jauh lebih maju ,saat aku menulis surat ini generasi kita akan lebi...

24 jam

24 Jam Siang dirundung gerimis. Sisa-sisa rasa sakit yang kemarin muncul seperti kuis yang tiba-tiba diberikan masih juga terasa. Aku memilih melangkahkan kaki menuju kedai kopi. Sebenarnya aku bisa memilih sushi, bar, atau burjo pinggir jalan. Tapi semua tempat itu tidak senyaman kedai kopi nomor 27. Pada kedai itu aku bisa melihat rentetan buku berderet rapi. Se-rapi alur yang kau berikan untuk pisah denganku. Diam--berbuat ulah di belakang--membela diri--aku maafkan--berbuat ulah lagi--lalu diam. Aku sedang malas-malasnya membahas tentang perlawanan, ekonomi carut-marut, kantong kosong tak dapat uang sampingan. Hatiku saja sedang gundah gulana, bagaimana bisa aku menjadi munafik dan tetap seperti biasa. Apa tidak cukup aku setiap hari berpura-pura tidak tahu bahwa kau sering jalan berdua dengannya? Apa tidak cukup aku selalu menutupi bahwa kita "baik-baik saja" Aku tumbuh di negara yang katanya  tidak boleh menangis. harus kuat dan harus selalu siap memaafkan. ...